Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Sejarah dan Asal Usul Pembangunan Berdirinya Monas (Monumen Nasional)

 warisan nusantara monas saveXpalaguna


Menomen ini terletak persis di Pusat Kota Jakarta. Tugu Monas merupakan tugu kebanggaan bangsa Indonesia, selain itu monas juga menjadi salah satu pusat tempat wisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Indonesa baik yang dijakarta maupun di luar Jakarta. Tujuan pembangunan tugu monas adalah untuk mengenang dan mengabadikan kebesaran perjuangan Bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi 17 Agustus 1945, dan juga sebagai wahana untuk membangkitkan semangat patriotisme generasi sekarang dan akan datang.


Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.

Tugu Monas punya ciri khas tersendiri, sebab arsitektur dan dimensinya melambangkan kias kekhususan Indonesia. Bentuk yang paling menonjol adalah tugu yang menjulang tinggi dan pelataran cawan yang luas mendatar. Di atas tugu terdapat api menyala seakan tak kunjung padam, melambangkan keteladanan semangat bangsa Indonesia yang tidak pernah surut berjuang sepanjang masa.

 http://satupedang.blogspot.com/2015/08/sejarah-pembangunan-monas-monumen.html

Bentuk dan tata letak Monas yang sangat menarik memungkinkan pengunjung dapat menikmati pemandangan indah dan sejuk yang memesona, berupa taman di mana terdapat pohon dari berbagai provinsi di Indonesia. Kolam air mancur tepat di lorong pintu masuk membuat taman menjadi lebih sejuk, ditambah dengan pesona air mancur bergoyang.

Di dekat pintu masuk menuju pelataran Monas itu juga nampak megah berdiri patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda. Patung yang terbuat dari perunggu seberat 8 ton itu dikerjakan oleh pemahat Italia, Prof Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia.

Gagasan awal pembangunan Monas muncul setelah sembilan tahun kemerdekaan diproklamirkan. Beberapa hari setelah peringatah HUT ke-9 RI, dibentuk Panitia Tugu Nasional yang bertugas mengusahakan berdirinya Tugu Monas. Panitia ini dipimpin Sarwoko Martokusumo, S Suhud selaku penulis, Sumali Prawirosudirdjo selaku bendahara dan dibantu oleh empat orang anggota masing-masing Supeno, K K Wiloto, E F Wenas, dan Sudiro.

http://satupedang.blogspot.com/Panitia yang dibentuk itu bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan Monas yang akan didirikan di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta . Termasuk mengumpulkan biaya pembangunannya yang harus dikumpulkan dari swadaya masyarakat sendiri.

Setelah itu, dibentuk panitia pembangunan Monas yang dinamakan ”Tim Yuri” diketuai langsung Presiden RI Ir Soekarno. Melalui tim ini, sayembara diselenggarakan dua kali. Sayembara pertama digelar pada 17 Februari 1955, dan sayembara kedua digelar 10 Mei 1960 dengan harapan dapat menghasilkan karya budaya yang setinggi-tingginya dan menggambarkan kalbu serta melambangkan keluhuran budaya Indonesia.

Dengan sayembara itu, diharapkan bentuk tugu yang dibangun benar-benar bisa menunjukan kepribadian bangsa Indonesia bertiga dimensi, tidak rata, tugu yang menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan besi serta batu pualam yang tahan gempa, tahan kritikan jaman sedikitnya seribu tahun serta dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat kepahlawanan.

Oleh Tim Yuri, pesan harapan itu dijadikan sebagai kriteria penilaian yang kemudian dirinci menjadi lima kriteria meliputi harus memenuhi ketentuan apa yang dinamakan Nasional, menggambarkan dinamika dan berisi kepribadian Indonesia serta mencerminkan cita-cita bangsa, melambangkan dan menggambarkan “api yang berkobar” di dalam dada bangsa Indonesia, menggambarkan hal yang sebenarnya bergerak meski tersusun dari benda mati, dan tugu harus dibangun dari benda-benda yang tidak cepat berubah dan tahan berabad-abad.

Namun, dua kali sayembara digelar, tidak ada rancangan yang memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan panitia. Akhirnya, ketua Tim Yuri menunjuk beberapa arsitek ternama yaitu Soedarsono dan Ir F Silaban untuk menggambar rencana tugu Monas. Keduanya arsitek itu sepakat membuat gambarnya sendiri-sendiri yang selanjutnya diajukan ke ketua Tim Yuri (Presiden Soekarno), dan ketua memilih gambar yang dibuat Soedarsono.

Dalam rancangannya, Soedarsono mengemukakan landasan pemikiran yang mengakomodasi keinginan panitia. Landasan pemikiran itu meliputi kriteria Nasional. Soedarsono mengambil beberapa unsur saat Proklamasi Kemerdekaan RI yang mewujudkan revolusi nasional sedapat mungkin menerapkannya pada dimensi arsitekturnya yaitu angka 17, 8, dan 45 sebagai angka keramat Hari Proklamasi.

 http://satupedang.blogspot.com/

Bentuk tugu yang menjulang tinggi mengandung falsafah “Lingga dan Yoni” yang menyerupai “Alu”sebagai “Lingga” dan bentuk wadah (cawan-red) berupa ruangan menyerupai “Lumpang” sebagai “Yoni”. Alu dan Lumpang adalah dua alat penting yang dimiliki setiap keluarga di Indonesia khususnya rakyat pedesaan. Lingga dan Yoni adalah simbol dari jaman dahulu yang menggambarkan kehidupan abadi, adalah unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, merupakan keabadian dunia.

Bentuk seluruh garis-garis arsitektur tugu ini mewujudkan garis-garis yang bergerak tidak monoton merata, naik melengkung, melompat, merata lagi, dan naik menjulang tinggi, akhirnya menggelombang di atas bentuk lidah api yang menyala. Badan tugu menjulang tinggi dengan lidah api di puncaknya melambangkan dan menggambarkan semangat yang berkobar dan tak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia.

Pembangunan tugu Monas dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertama (1961-1965), kedua (1966-1968), dan tahap ketiga (1969-1976). Pada tahap pertama pelaksanaan pekerjaannya dibawah pengawasan Panitia Monumen Nasional dan biaya yang digunakan bersumber dari sumbangan masyarakat.
Tahap kedua pekerjaannya masih dilakukan dibawah pengawasan panitia Monas. Hanya saja, biaya pembangunannya bersumber dari Anggaran Pemerintah Pusat c.q Sekertariat Negara RI. Pada tahap kedua ini, pembangunan mengalami kelesuan, karena keterbatasan biaya.

Tahap ketiga pelaksanaan pekerjaan berada dibawah pengawasan Panitia Pembina Tugu Nasional, dan biaya yang digunakan bersumber dari Pemerintah Pusat c.q Direktorat Jenderal Anggaran melalui Repelita dengan menggunakan Daftar Isian Proyek (DIP).

Ruang museum sejarah yang terletak tiga meter dibawah permukaan halaman tugu memiliki ukuran 80X80 meter. Dinding serta lantai di ruang itu pun semuanya dilapisi batu marmer. Di dalam ruangan itu, pengunjung disajikan dengan 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan sejarah sejak jaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia hingga masa pembangunan di jaman orde baru. Di ruangan ini pula, pengunjung juga dapat mendengar rekaman suara Bung Karno saat membacakan Proklamasi.

 http://satupedang.blogspot.com/

Ruang Kemerdekaan
Sementara di ruang kemerdekaan yang berbentuk amphitheater terletak di dalam cawan tugu, terdapat empat atribut kemerdekaan meliputi peta kepulauan Negara RI , Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan pintu Gapura yang berisi naskah Proklamasi Kemerdekaan.

Di pelataran puncak tugu yang terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman tugu memiliki ukuran 11X11 meter, pengunjung dapat mencapai pelataran itu dengan menggunakan elevator (lift-red) tunggal yang berkapasitas sekitar 11 orang.

Di pelataran yang mampu menampung sekitar 50 orang itu juga disediakan empat teropong di setiap sudut, dimana pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian 132 meter dari halaman tugu Monas.

Lidah api yang terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh lidah api dilapisi lempengan emas seberat 35 kilogram, dan kemudian pada HUT ke-50 RI, emas yang melapisi lidah api itu ditambah menjadi 50 kilogram.


Sumber : http://satupedang.blogspot.com/2015/08/sejarah-pembangunan-monas-monumen.html

Bioskop Pertama di Indonesia berada di Sebuah Rumah


Seluruh masyarakat Indonesia, bahkan di dunia yang tinggal di kota-kota besar pasti pernah mengunjungi bioskop untuk menonton film. Masyarakat pun sangat terhibur dengan tayangan-tayangan berkualitas dan layanan bioskop yang membuat para visitor nyaman.

Di Indonesia, antusiasme masyarakat untuk pergi ke bioskop bisa dilihat pada akhir pekan, dan pada film midnight (tengah malam) yang diadakan setiap Sabtu malam.

Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember tahun 1900, di Jalan Tanah Abang 1, Kebon Jahe, Jakarta Pusat. Namun Bioskop ini bukan didirikan di sebuah gedung, tapi di sebuah rumah.

Bioskop yang didirikan oleh orang Belanda itu mematok harga tiket sebesar 2 Gulden (perak) untuk kelas 1 dan harga kelas dua hanya setengah Gulden. Harga yang cukup mahal mengingat harga setengah Gulden saja setara dengan 10 kg beras ketika itu.

Warga Jakarta saat itu disuguhkan dengan film tidak berbicara alias bisu yang berjudul "Sri Baginda Maharatu Belanda bersama Pangeran Hertog Hendrick memasuki Ibu Kota Belanda, Den Haag". Film berwarna hitam-putih ini di hanya diiringi musik sepanjang film berlangsung.

Setelah itu, bioskop sudah menayangkan film hitam-putih itu di dalam gedung-gedung. Pada tahun 1901 berdiri bioskop di kawasan Gambir, bangunan bioskop masih menyerupai bangsal dengan dinding terbuat dari gedek dan beratapkan seng.

Bangunan ini tidak dibuat permanen karena setelah film diputar maka pengusaha film itu akan memutar filmnya di luar kota dan berkeliling ke kota-kota lainnya. Biokop ini dikenal dengan nama Talbot yang notabene adalah nama pemilik dari bioskop tersebut.

Seorang pengusaha lainnya yang bernama Schwarz mendirikan bioskop di kawasan di Jalan Kebon Jahe, Tanah Abang. Namun nahas, bioskop itu hangus terbakar setelah mengalami kecelakaan dan akhirnya pindah ke sebuah gedung di daerah Pasar Baru.

Tahun 1903, muncul bioskop-bioskop lainnya di Deca Park yang bernama Jules Francois de Calonne. De Calonee ini berbeda dengan bioskop lainnya, pemutaran film ini diputar di lapangan terbuka atau yang biasa disebut 'misbar' alias gerimis bubar.

Bioskop lainnya yang mulai menjamur seperti Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder, Cinema di Krekot, Centraal di Jatinegara, Rialto di Senen dan Tanah Abang, Surya di Tanah Abang, Thalia di Hayam Wuruk, Orion di Glodok, Al Hambra di Sawah Besar, Oost Java di Jalan Veteran, Widjaja di Jalan Pasar Ikan, Rivoli di Kramat, dan lainnya.

Sampai akhirnya di tahun 1951 diresmikan bioskop Metropole yang berkapasitas 1.700 tempat duduk, berteknologi ventilasi peniup dan penyedot, bertingkat tiga dengan ruang dansa dan kolam renang di lantai paling atas. 

Bioskop ini pernah berubah nama menjadi bioskop Megaria sebelum pada tahun 2008 berubah kembali menjadi Metropole.

Pada tahun 1987 bioskop mulai berkonsep sinepleks atau gedung bioskop dengan lebih dari satu layar. Sinepleks ini biasanya berada di titik-titik keramaian seperti di mall, restoran, pusat perbelanjaan, dan pertokoan.

Pada tahun 2000-an bioskop ini makin marak di Indonesia. Pengelola terbesarnya yaitu 21 Cineplex dengan bioskop 21 dan XXI, dan satunya lagi dikelola oleh the premiere. Bioskop ini tersebar di seluruh nusantara.

Dari situ lah industri perfilman dari tahun ke tahun mengalam perkembangan yang sangat signifikan. Masyarakat yang penat bekerja dan ingin menyegarkan pikirannya datang ke bioskop bersama keluarga atau dengan teman-temannya. [did]

Sejarah Panjang Kebun Binatang Ragunan, Kebun Binatang pertama di Indonesia


TAMAN Margasatwa Ragunan memiliki riwayat yang sangat panjang. Kebun binatang pertama di Indonesia ini usianya mencapai 150 tahun. Dengan ratusan jenis koleksi satwa, Taman Margasatwa Ragunan tak hanya menjadi pilihan wisata murah dan edukatif bagi warga, tetapi juga menjadi pusat penelitian dan pelestarian satwa.

Taman Margasatwa Ragunan (TMR) terletak di Jalan Harsono RM 1 Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kebun binatang yang didirikan pada 19 September 1864 itu hampir tak pernah sepi pengunjung, terlebih pada akhir pekan atau hari libur nasional. Sepanjang 2014, tercatat 4,3 juta pengunjung datang ke TMR. Mereka berasal dari seluruh daerah di Tanah Air.

Pasangan Amdani (60) dan Yuani (58), dengan menggunakan bus Transjakarta dari dekat rumah mereka di Pisangan Timur, Jakarta Timur, berkunjung ke TMR, Sabtu (21/3/2015) lalu.

Bagi Amdani, TMR merupakan tempat wisata yang mudah dijangkau, relatif murah, dan menarik karena keberagaman flora dan fauna. ”Jalan-jalan di kebun binatang menyenangkan dan bisa menghilangkan stres,” kata karyawan pabrik itu.

Istrinya, Yuani, menuturkan, di TMR dia bisa melihat langsung macan, jerapah, gajah, zebra, dan banyak hewan menarik lainnya. ”Jadi, tidak hanya menonton di televisi. Di sini, kami melihat dan mendengar suara satwa,” kata ibu satu anak itu.

Ayu (27), warga Cilandak, Jakarta Selatan, mengunjungi TMR bersama suami dan dua anaknya. ”Saya sengaja mengajak anak-anak melihat satwa agar belajar menyayangi makhluk hidup,” katanya.

Inspirasi Raden Saleh

TMR awalnya bernama Planten en Dierentuin (Tanaman dan Kebun Binatang). Kebun binatang itu pada mulanya didirikan di atas lahan seluas 10 hektar milik pelukis ternama, Raden Saleh, di Jalan Cikini Raya Nomor 73, Jakarta Pusat.

Pelaksana Petisi Raden Saleh 2005 dan 2015, Dayan D Layuk Allo, menuturkan, ide pendirian itu diperoleh Raden Saleh sewaktu menempuh pendidikan di London, Inggris. ”Raden Saleh cinta pada hewan dan tumbuhan. Dia tak hanya memelihara dan merawat (binatang), tetapi juga meneliti. Mereka sumber inspirasinya saat melukis,” katanya.

KOMPAS/RADITYA HELABUMITaman Margasatwa Ragunan
Saat itu, kebun binatang dikelola Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna Batavia (Culturule Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia). Tahun 1949, namanya menjadi Kebun Binatang Cikini. Seiring perkembangan Kota Jakarta, Cikini tak cocok lagi menjadi lokasi kebun binatang. Disiapkanlah lahan seluas 30 hektar di daerah Ragunan sebagai lokasi baru.

Pada tahun 1964, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memindahkan satwa koleksi Kebun Binatang Cikini ke Ragunan. Pemindahan itu dipimpin dokter hewan THEW Umboh. Taman Margasatwa Ragunan diresmikan pada 22 Desember 1966 oleh Gubernur DKI Jakarta waktu itu Ali Sadikin.

Kepala Hubungan Masyarakat TMR Wahyudi Bambang mengatakan, tak ada data pasti berapa jumlah satwa yang dipindahkan saat itu. ”Diperkirakan sekitar 500 ekor,” katanya.

Saat ini, TMR berada di atas lahan seluas 174 hektar. Beragam jenis hewan ada di dalam kandang yang dikelompokkan sesuai jenis dan habitat.

TMR memiliki fungsi konservasi, edukasi, penelitian, rekreasi alam, dan daerah resapan air. Selain kaya akan keanekaragaman satwa, kebun binatang ini juga memiliki lima danau buatan dan hutan alami untuk mencegah banjir dan jadi paru-paru kota.

Kesejahteraan satwa

Untuk memastikan kesejahteraan satwa, TMR menerapkan libur satwa setiap hari Senin. ”Ini membuat mereka senang, terbebas dari stres dan rasa takut,” kata Bambang.

Namun, menurut pemimpin komunitas perlindungan satwa Animal Defenders Doni Herdaru Tona, seperti dikutip Kompas, 22 September 2014, selama ini kesadaran masyarakat untuk melindungi satwa masih rendah. ”Pengunjung masih sering memberikan makanan yang tak sesuai kebutuhan satwa. Misalnya, kucing besar diberi cokelat, padahal makanan itu bisa mengganggu jantung hewan tersebut,” ujar Doni.

Doni meminta pengelola TMR terus meningkatkan pemahaman ke masyarakat untuk melindungi satwa. Hal ini sesuai fungsi utama kebun binatang sebagai sarana edukasi masyarakat dan perlindungan satwa.

KOMPAS/HELMI KODHJATAnggota DPR dari Komisi V, Jumat (7/12/1973), meninjau Taman Margasatwa Ragunan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Rombongan anggota Dewan tersebut sedang menonton orangutan, salah satu binatang khas Indonesia, yang telah menjadi salah satu ikon TMR pada masa itu.
Permintaan Doni menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pengelola TMR. Apalagi, tahun ini usia TMR menginjak 150 tahun dan diproyeksikan menjadi kebun binatang modern berkelas internasional.

Kepala TMR Marsawitri Gumay mengatakan, rencana pengembangan tengah disusun untuk menjadikan kebun binatang itu tempat pelestarian satwa endemis asli Indonesia.

Menurut Bambang, kebun binatang modern harus menerapkan konsep kandang terbuka yang dibuat menyerupai habitat asli satwa. Penentuan zonasi kandang, seperti zona Afrika, Asia, peralihan, karnivor, dan herbivor, juga diperlukan.

Untuk mendukung pembangunan TMR, kini berbagai perubahan mulai dilakukan, misalnya, dengan penerapan sistem tiket elektronik. Perubahan itu untuk menghemat kertas, efisiensi pekerja, dan transparansi anggaran.

TMR terus berkembang menyesuaikan zaman, mewarnai perjalanan kota ini.... (Denty Piawai Nastitie)

Sarinah, Mall Pertama dan Gedung Pencakar Langit Pertama di Jakarta


Gedung Sarinah adalah sebuah bangunan bersejarah gagasan Presiden Soekarno yang ingin memiliki pusat perbelanjaan pertama di Indonesia.

Bahkan di saat ekonomi sulit kala itu, Sarinah dibangun dengan biaya rampasan perang pemerintah Jepang.  Tak hanya mal pertama di Indonesia, Sarinah juga memiliki sejumlah fakta menarik lainnya untuk disimak seperti dikutip dari laman BUMN.go.id, Sarinah.co.id dan sejumlah sumber lainnya:

1. Gedung Pencakar Langit Pertama di Jakarta 

Sarinah adalah pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai yang terletak di Menteng, Jakarta. Kala itu Sarinah merupakan pencakar langit pertama di Jakarta.

2. Mal Pertama di Indonesia
Ide berdirinya Sarinah tersebut merupakan hasil lawatan Soekarno ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern. Saat itu Soekarno ingin membuat pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus.
Sarinah merupakan Department Store pertama Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1962, saat ekonomi Indonesia sedang runtuh di tahun 1959. Daya beli lemah, taraf hidup merosot sampai level terendah. Ketika Sarinah didirikan, Sarinah memiliki fasilitas tercanggih di zamannya.

Gedung Sarinah yang saat ini berdiri sesungguhnya dibangun dengan biaya rampasan perang pemerintah Jepang yang pembukaan Department Store-nya pada 15 Agustus 1966.

3. Asal Nama Sarinah
Dalam pengantar bukunya yang berjudul Sarinah, Soekarno menuliskan “Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran mencintai 'orang kecil'. Ia orang kecil, tapi jiwanya selalu besar”.

Kecintaan Soekarno dan rasa hormat yang tinggi terhadap Sarinah diwujudkan dengan menamai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia sesuai dengan nama pengasuhnya itu.

Sesuai dengan namanya, Sarinah telah membantu kepentingan masyarakat kecil sebagai mitra usaha. Hingga saat ini cukup banyak mitra binaan Sarinah baik perorangan, perusahaan maupun koperasi.

4. Bisnis Sarinah
Tak hanya bergerak di bidang ritel, Sarinah juga bergerak ekspor dan impor, distribusi dan penyewaan ruangan, money changer dan perhotelan.
Sarinah melakukan kegiaran ekspor furnitur hingga singkong ke sejumlah negara. Perusahaan pelat merah itu juga melakukan kegiatan impor minuman alkohol dari Australia, Prancis, Belanda dan sejumlah negara Eropa.
Sarinah juga mendistribusikan barang-barang kebutuhan pokok seperti terigu, gula, beras, atsiri, air mineral, coklat dan lain-lain kepada agen dan konsumen akhir.
Sarinah saat ini bekerjasama dengan Bogasari untuk mendistribusikan terigu Cakra dan Segitiga Biru ke Purantara. Sementara untuk gula, perseroan menggandeng PT Sugar Labinta untuk mendisribusikan gula rafinasi yang ditujukan untuk UKM di seluruh Indonesia.
 
Penyewaan ruang perkantoran untuk entertaimentfood baverage and office.  Perseroan melalui anak usahanya PT Sariarthamas Hotel International  mengelola Hotel Sari Pan Pacific di Jakarta.

5. Cabang Sarinah
Selain di Thamrin, Sarinah juga memiliki sejumlah outlet yang berada di Pejaten Village, Jakarta. Outlet Sarinah juga bisa ditemui di Banyumanik, Semarang dan Malang, Jawa Timur.

6. Kebakaran pada 1984
Tak hanya hari ini, Gedung Sarinah ternyata juga pernah mengalami kebakaran pada 1984.

(Ndw/Igw)
http://bisnis.liputan6.com/read/2340893/fakta-fakta-seputar-sarinah-mal-pertama-di-indonesia

Sejarah Singkat Museum Bank Mandiri


Berangkat dari rangkaian sejarah bank-bank pendahulu maupun bank-bank merger yang melebur menjadi PT Bank Mandiri, maka diperlukan upaya untuk menjaga agar rangkaian sejarah tersebut tidak terputus dan terlupakan begitu saja. Hal ini dilakukan dengan cara mengabadikan koleksi perkembangan sejarah Bank Mandiri secara utuh.
Diharapkan, paparan sejarah tersebut akan bermanfaat, tidak saja untuk mengenang kembali nilai-nilai historis yang terkandung di dalamnya, tetapi juga sebagai pemicu kemajuan dunia perbankan nasional pada umumnya.
Gagasan tersebut di atas menjadi pertimbangan Manajemen Bank Mandiri dalam merencanakan sebuah museum yang menyajikan sejarah perkembangan terbentuknya Bank Mandiri. Lokasi yang diperuntukan sebagai museum adalah aset gedung di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 Jakarta-Kota, yang juga merupakan Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.
Visi yang diemban oleh Museum Bank Mandiri adalah menjadi museum perbankan yang berstandar internasional yang informatif, inspiratif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Adapun misinya adalah mengembangkan Museum Bank Mandiri sebagai pusat dokumentasi sejarah Bank, sebagai sarana kultural-edukatif dan rekreatif bagi masyarakat, pengelolaan museum dengan manajemen profesional, turut berpartisipasi dalam revitalisasi bangunan bersejarah di kawasan “Kota Tua Jakarta” sebagai tempat tujuan wisata, serta menjalin kerja sama dengan semua pihak dalam rangka pengembangan museum.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta No. 237 tahun 2005, tanggal 19 Desember 2005 Gedung Museum Bank Mandiri mendapatkan penghargaan ”Sadar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya tahun 2005” di wilayah DKI Jakarta.

Sejarah Gedung

Museum Bank Mandiri yang terletak di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 (Stationsplein 1 – Binnen Niuewpoortstraat) merupakan bangunan peninggalan masa kolonial. Dahulunya berada dalam satu taman yang menyatu dengan Stasiun Kereta Api Jakarta-Kota atau Beos (Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij).
Awal sejarahnya bangunan ini merupakan Kantor Wilayah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Hindia Timur yang lebih dikenal dengan nama de Factorij Batavia.
Bangunan ini dirancang oleh arsitek NHM, J.J.J. de Bruyn bekerja sama dengan arsitek Belanda lainnya, A.P. Smits dan C. van de Linde yang keduanya bekerja pada biro arsitek Hulswit, Fermont and Ed. Cuipers.
Gedung berdiri di atas lahan seluas 10.039 M2 ini, diresmikan pada 14 Januari 1933, oleh C.J. Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10. Pemancangan diawali dengan tiang beton bulan Juli 1929 oleh biro konstruksi NV Nedam (Nederlandse Aanneming Maatshappij).
Arsitektur gedung berlantai empat seluas 21.509 M2 ini cenderung sederhana, berbentuk simetris dengan keberadaan taman di tengah gedung, dan main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan. Lantai dasar gedung ini dibuat lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan entrance-nya terasa anggun. Lantai lobi, ruang rapat, dan ruang direksinya memakai bahan mozaik keramik bercampur kaca (glasmozaiek-tegels). Sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin (vloertegels) berwarna hitam, abu-abu dan merah.
Dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 dan bergabungnya empat bank pemerintah: Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri, maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi salah satu aset Bank Mandiri.

Lokasi Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri bisa dicapai dengan berbagai cara. Cara termudah adalah menggunakan bus Transjakarta. Museum Bank Mandiri persis berada di seberang terminal pemberhentian terakhir bus Transjakarta.
Bila menggunakan kereta api, Museum Bank Mandiri juga berseberangan lokasinya dengan Stasiun Jakarta Kota atau populer disebut Stasiun Beos.
Banyak museum di kawasan ini. Ada juga Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Seni Rupa. Museum-museum ini saling berdekatan letaknya. Jadi manfaatkanlah waktu Anda sebaik mungkin di kawasan ini.


Koleksi Museum Bank Mandiri
Persyaratan bagi materi koleksi museum adalah benda asli, reproduksi atau miniatur. Benda-benda ini pun harus mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Harus pula mencerminkan proses perkembangan lahirnya Bank Mandiri. Bahkan keberadaannya harus merupakan bukti pelaksanaan fungsi dan kegiatan bank yang mewakili suatu fenomena atau kecenderungan tertentu serta dapat diidentifikasi asal-usul, tipe/gaya, periode waktu, maupun fungsi kegunaannya sehingga dapat dijadikan suatu monumen sejarah atau diperkirakan menjadi monumen sejarah di masa depan.
Materi koleksi yang ada di Museum Bank Mandiri terdiri atas jenis perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, arsip sejarah, dan jenis koleksi lainnya seperti perlengkapan pendukung operasional bank dan bahan pustaka.
Koleksi perlengkapan operasional bank tempo dulu yang unik, antara lain:
* peti uang,
* mesin hitung uang mekanik,
* kalkulator,
* mesin pembukuan,
* mesin cetak,
* alat pres bendel,
* seal press,
* brandkast,
* safe deposit box,
* anak kunci lemari/pintu besi serta aneka surat berharga, seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham.
Ornamen bangunan, interior, dan furnitur asli dari gedung museum yang merupakan benda cagar budaya juga merupakan bagian dari koleksi yang perlu dilestarikan.
Adapun koleksi pendukung operasional lainnya adalah sarana promosi, komunikasi, ekspedisi dan kesekretariatan, seragam pegawai dan perlengkapannya, peralatan teknologi informasi, komponen bangunan dan miniatur gedung kantor, serta perlengkapan sekuriti dan rumah tangga lainnya.
Sesuai kurun waktunya, koleksi Museum Bank Mandiri dapat dikelompokkan berdasarkan periode bank-bank pendahulu mulai tahun 1826-1959/1960 dengan koleksi berasal dari masa NHM, Escomptobank, NIHB/NHB dan BIN, periode bank-bank bergabung tahun 1959/1960-1998 masa BBD, BDN, Bank Exim dan Bapindo, serta periode awal merger Bank Mandiri sampai dengan go public tahun 1999-2003.

Belanja Sambil Wisata di Pusat Perbelanjaan Tertua Pasar Baru Jakarta


BAGI yang hobi belanja, pasti sudah tak asing mendengar nama Pasar Baru yang terletak di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ya, Pasar Baru ini acap jadi tujuan orang-orang belanja berbagai produk tekstil.
Yang harus diketahui, meski gerbangnya bergaya Tiongkok dengan bertuliskan “Passer Baroe 1820”, ternyata tidak hanya warga tenis Tionghoa yang mengadu nasib bisnis di sini. Justru di Pasar Baru inilah turut banyak diramaikan para pedagang etnis India.

Pasar Baru itu sendiri disebutkan merupakan pusat perbelanjaan tertua di Batavia (kini Jakarta). Berdiri sejak 1820, pasar ini tidak hanya jadi pusat orang India berbinis, tapi juga bermukim.
Beberapa bangunan toko di dalamnya masih sangat lawas antara perpaduan gaya Tionghoa dan Eropa. Bahkan beberapa di antaranya masih ada yang orisinil dan terpelihara hingga kini, kendati bangunannya mulai sedikit rusak di sana-sini.
Seperti “Toko Kompak” misalnya. Salah satu toko di dalam kompleks Pasar Baru ini nampak atapnya sudah berkarat dan usang. Akan tetapi sejak zaman kolonialisme Belanda, toko ini konsisten menjual alat-alat masak hingga sekarang.
 
Kalau Anda berkesempatan ke Pasar Baru, setidaknya jangan hanya belanja doang. Karena sayang jika tidak sekaligus wisata sejarah dan wisata religi.
Destinasi wisata sejarah selain “Toko Kompak”, adalah gedung bekas pembuat jamu ‘Nyonya Meneer’ yang berdiri sejak tahun 1900-an. Letaknya tak jauh dari Vihara Sin Tek Bio.
Nah, bisa sekalian juga kan wisata religi ke vihara yang sudah eksis sejak 1698. Ditambah, ada Gereja Ayam, hingga Masjid Lautze yang didirikan di atas dua ruko pada 1994.
Oh iya, tak ketinggalan ternyata di Pasar Baru ada pula Kuil Sikh lho. Kuil yang khusus jadi tempat sembahyang orang-orang India Sikh yang sudah ada sejak 1950.
 
Seperti yang disebutkan di atas sebelumnya, Pasar Baru juga jadi tempat orang-orang India bermukim. Selain ada kuil, ada pula Sekolah Ghandhi yang juga sudah eksis pada 1950, di mana dulu khusus diperuntukkan anak-anak etnis India.