Sarinah, Mall Pertama dan Gedung Pencakar Langit Pertama di Jakarta


Gedung Sarinah adalah sebuah bangunan bersejarah gagasan Presiden Soekarno yang ingin memiliki pusat perbelanjaan pertama di Indonesia.

Bahkan di saat ekonomi sulit kala itu, Sarinah dibangun dengan biaya rampasan perang pemerintah Jepang.  Tak hanya mal pertama di Indonesia, Sarinah juga memiliki sejumlah fakta menarik lainnya untuk disimak seperti dikutip dari laman BUMN.go.id, Sarinah.co.id dan sejumlah sumber lainnya:

1. Gedung Pencakar Langit Pertama di Jakarta 

Sarinah adalah pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai yang terletak di Menteng, Jakarta. Kala itu Sarinah merupakan pencakar langit pertama di Jakarta.

2. Mal Pertama di Indonesia
Ide berdirinya Sarinah tersebut merupakan hasil lawatan Soekarno ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern. Saat itu Soekarno ingin membuat pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus.
Sarinah merupakan Department Store pertama Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1962, saat ekonomi Indonesia sedang runtuh di tahun 1959. Daya beli lemah, taraf hidup merosot sampai level terendah. Ketika Sarinah didirikan, Sarinah memiliki fasilitas tercanggih di zamannya.

Gedung Sarinah yang saat ini berdiri sesungguhnya dibangun dengan biaya rampasan perang pemerintah Jepang yang pembukaan Department Store-nya pada 15 Agustus 1966.

3. Asal Nama Sarinah
Dalam pengantar bukunya yang berjudul Sarinah, Soekarno menuliskan “Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran mencintai 'orang kecil'. Ia orang kecil, tapi jiwanya selalu besar”.

Kecintaan Soekarno dan rasa hormat yang tinggi terhadap Sarinah diwujudkan dengan menamai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia sesuai dengan nama pengasuhnya itu.

Sesuai dengan namanya, Sarinah telah membantu kepentingan masyarakat kecil sebagai mitra usaha. Hingga saat ini cukup banyak mitra binaan Sarinah baik perorangan, perusahaan maupun koperasi.

4. Bisnis Sarinah
Tak hanya bergerak di bidang ritel, Sarinah juga bergerak ekspor dan impor, distribusi dan penyewaan ruangan, money changer dan perhotelan.
Sarinah melakukan kegiaran ekspor furnitur hingga singkong ke sejumlah negara. Perusahaan pelat merah itu juga melakukan kegiatan impor minuman alkohol dari Australia, Prancis, Belanda dan sejumlah negara Eropa.
Sarinah juga mendistribusikan barang-barang kebutuhan pokok seperti terigu, gula, beras, atsiri, air mineral, coklat dan lain-lain kepada agen dan konsumen akhir.
Sarinah saat ini bekerjasama dengan Bogasari untuk mendistribusikan terigu Cakra dan Segitiga Biru ke Purantara. Sementara untuk gula, perseroan menggandeng PT Sugar Labinta untuk mendisribusikan gula rafinasi yang ditujukan untuk UKM di seluruh Indonesia.
 
Penyewaan ruang perkantoran untuk entertaimentfood baverage and office.  Perseroan melalui anak usahanya PT Sariarthamas Hotel International  mengelola Hotel Sari Pan Pacific di Jakarta.

5. Cabang Sarinah
Selain di Thamrin, Sarinah juga memiliki sejumlah outlet yang berada di Pejaten Village, Jakarta. Outlet Sarinah juga bisa ditemui di Banyumanik, Semarang dan Malang, Jawa Timur.

6. Kebakaran pada 1984
Tak hanya hari ini, Gedung Sarinah ternyata juga pernah mengalami kebakaran pada 1984.

(Ndw/Igw)
http://bisnis.liputan6.com/read/2340893/fakta-fakta-seputar-sarinah-mal-pertama-di-indonesia

Sejarah Singkat Museum Bank Mandiri


Berangkat dari rangkaian sejarah bank-bank pendahulu maupun bank-bank merger yang melebur menjadi PT Bank Mandiri, maka diperlukan upaya untuk menjaga agar rangkaian sejarah tersebut tidak terputus dan terlupakan begitu saja. Hal ini dilakukan dengan cara mengabadikan koleksi perkembangan sejarah Bank Mandiri secara utuh.
Diharapkan, paparan sejarah tersebut akan bermanfaat, tidak saja untuk mengenang kembali nilai-nilai historis yang terkandung di dalamnya, tetapi juga sebagai pemicu kemajuan dunia perbankan nasional pada umumnya.
Gagasan tersebut di atas menjadi pertimbangan Manajemen Bank Mandiri dalam merencanakan sebuah museum yang menyajikan sejarah perkembangan terbentuknya Bank Mandiri. Lokasi yang diperuntukan sebagai museum adalah aset gedung di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 Jakarta-Kota, yang juga merupakan Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.
Visi yang diemban oleh Museum Bank Mandiri adalah menjadi museum perbankan yang berstandar internasional yang informatif, inspiratif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Adapun misinya adalah mengembangkan Museum Bank Mandiri sebagai pusat dokumentasi sejarah Bank, sebagai sarana kultural-edukatif dan rekreatif bagi masyarakat, pengelolaan museum dengan manajemen profesional, turut berpartisipasi dalam revitalisasi bangunan bersejarah di kawasan “Kota Tua Jakarta” sebagai tempat tujuan wisata, serta menjalin kerja sama dengan semua pihak dalam rangka pengembangan museum.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta No. 237 tahun 2005, tanggal 19 Desember 2005 Gedung Museum Bank Mandiri mendapatkan penghargaan ”Sadar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya tahun 2005” di wilayah DKI Jakarta.

Sejarah Gedung

Museum Bank Mandiri yang terletak di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 (Stationsplein 1 – Binnen Niuewpoortstraat) merupakan bangunan peninggalan masa kolonial. Dahulunya berada dalam satu taman yang menyatu dengan Stasiun Kereta Api Jakarta-Kota atau Beos (Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij).
Awal sejarahnya bangunan ini merupakan Kantor Wilayah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Hindia Timur yang lebih dikenal dengan nama de Factorij Batavia.
Bangunan ini dirancang oleh arsitek NHM, J.J.J. de Bruyn bekerja sama dengan arsitek Belanda lainnya, A.P. Smits dan C. van de Linde yang keduanya bekerja pada biro arsitek Hulswit, Fermont and Ed. Cuipers.
Gedung berdiri di atas lahan seluas 10.039 M2 ini, diresmikan pada 14 Januari 1933, oleh C.J. Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10. Pemancangan diawali dengan tiang beton bulan Juli 1929 oleh biro konstruksi NV Nedam (Nederlandse Aanneming Maatshappij).
Arsitektur gedung berlantai empat seluas 21.509 M2 ini cenderung sederhana, berbentuk simetris dengan keberadaan taman di tengah gedung, dan main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan. Lantai dasar gedung ini dibuat lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan entrance-nya terasa anggun. Lantai lobi, ruang rapat, dan ruang direksinya memakai bahan mozaik keramik bercampur kaca (glasmozaiek-tegels). Sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin (vloertegels) berwarna hitam, abu-abu dan merah.
Dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 dan bergabungnya empat bank pemerintah: Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri, maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi salah satu aset Bank Mandiri.

Lokasi Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri bisa dicapai dengan berbagai cara. Cara termudah adalah menggunakan bus Transjakarta. Museum Bank Mandiri persis berada di seberang terminal pemberhentian terakhir bus Transjakarta.
Bila menggunakan kereta api, Museum Bank Mandiri juga berseberangan lokasinya dengan Stasiun Jakarta Kota atau populer disebut Stasiun Beos.
Banyak museum di kawasan ini. Ada juga Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Seni Rupa. Museum-museum ini saling berdekatan letaknya. Jadi manfaatkanlah waktu Anda sebaik mungkin di kawasan ini.


Koleksi Museum Bank Mandiri
Persyaratan bagi materi koleksi museum adalah benda asli, reproduksi atau miniatur. Benda-benda ini pun harus mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Harus pula mencerminkan proses perkembangan lahirnya Bank Mandiri. Bahkan keberadaannya harus merupakan bukti pelaksanaan fungsi dan kegiatan bank yang mewakili suatu fenomena atau kecenderungan tertentu serta dapat diidentifikasi asal-usul, tipe/gaya, periode waktu, maupun fungsi kegunaannya sehingga dapat dijadikan suatu monumen sejarah atau diperkirakan menjadi monumen sejarah di masa depan.
Materi koleksi yang ada di Museum Bank Mandiri terdiri atas jenis perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, arsip sejarah, dan jenis koleksi lainnya seperti perlengkapan pendukung operasional bank dan bahan pustaka.
Koleksi perlengkapan operasional bank tempo dulu yang unik, antara lain:
* peti uang,
* mesin hitung uang mekanik,
* kalkulator,
* mesin pembukuan,
* mesin cetak,
* alat pres bendel,
* seal press,
* brandkast,
* safe deposit box,
* anak kunci lemari/pintu besi serta aneka surat berharga, seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham.
Ornamen bangunan, interior, dan furnitur asli dari gedung museum yang merupakan benda cagar budaya juga merupakan bagian dari koleksi yang perlu dilestarikan.
Adapun koleksi pendukung operasional lainnya adalah sarana promosi, komunikasi, ekspedisi dan kesekretariatan, seragam pegawai dan perlengkapannya, peralatan teknologi informasi, komponen bangunan dan miniatur gedung kantor, serta perlengkapan sekuriti dan rumah tangga lainnya.
Sesuai kurun waktunya, koleksi Museum Bank Mandiri dapat dikelompokkan berdasarkan periode bank-bank pendahulu mulai tahun 1826-1959/1960 dengan koleksi berasal dari masa NHM, Escomptobank, NIHB/NHB dan BIN, periode bank-bank bergabung tahun 1959/1960-1998 masa BBD, BDN, Bank Exim dan Bapindo, serta periode awal merger Bank Mandiri sampai dengan go public tahun 1999-2003.

Belanja Sambil Wisata di Pusat Perbelanjaan Tertua Pasar Baru Jakarta


BAGI yang hobi belanja, pasti sudah tak asing mendengar nama Pasar Baru yang terletak di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ya, Pasar Baru ini acap jadi tujuan orang-orang belanja berbagai produk tekstil.
Yang harus diketahui, meski gerbangnya bergaya Tiongkok dengan bertuliskan “Passer Baroe 1820”, ternyata tidak hanya warga tenis Tionghoa yang mengadu nasib bisnis di sini. Justru di Pasar Baru inilah turut banyak diramaikan para pedagang etnis India.

Pasar Baru itu sendiri disebutkan merupakan pusat perbelanjaan tertua di Batavia (kini Jakarta). Berdiri sejak 1820, pasar ini tidak hanya jadi pusat orang India berbinis, tapi juga bermukim.
Beberapa bangunan toko di dalamnya masih sangat lawas antara perpaduan gaya Tionghoa dan Eropa. Bahkan beberapa di antaranya masih ada yang orisinil dan terpelihara hingga kini, kendati bangunannya mulai sedikit rusak di sana-sini.
Seperti “Toko Kompak” misalnya. Salah satu toko di dalam kompleks Pasar Baru ini nampak atapnya sudah berkarat dan usang. Akan tetapi sejak zaman kolonialisme Belanda, toko ini konsisten menjual alat-alat masak hingga sekarang.
 
Kalau Anda berkesempatan ke Pasar Baru, setidaknya jangan hanya belanja doang. Karena sayang jika tidak sekaligus wisata sejarah dan wisata religi.
Destinasi wisata sejarah selain “Toko Kompak”, adalah gedung bekas pembuat jamu ‘Nyonya Meneer’ yang berdiri sejak tahun 1900-an. Letaknya tak jauh dari Vihara Sin Tek Bio.
Nah, bisa sekalian juga kan wisata religi ke vihara yang sudah eksis sejak 1698. Ditambah, ada Gereja Ayam, hingga Masjid Lautze yang didirikan di atas dua ruko pada 1994.
Oh iya, tak ketinggalan ternyata di Pasar Baru ada pula Kuil Sikh lho. Kuil yang khusus jadi tempat sembahyang orang-orang India Sikh yang sudah ada sejak 1950.
 
Seperti yang disebutkan di atas sebelumnya, Pasar Baru juga jadi tempat orang-orang India bermukim. Selain ada kuil, ada pula Sekolah Ghandhi yang juga sudah eksis pada 1950, di mana dulu khusus diperuntukkan anak-anak etnis India.