Belanja Sambil Wisata di Pusat Perbelanjaan Tertua Pasar Baru Jakarta


BAGI yang hobi belanja, pasti sudah tak asing mendengar nama Pasar Baru yang terletak di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ya, Pasar Baru ini acap jadi tujuan orang-orang belanja berbagai produk tekstil.
Yang harus diketahui, meski gerbangnya bergaya Tiongkok dengan bertuliskan “Passer Baroe 1820”, ternyata tidak hanya warga tenis Tionghoa yang mengadu nasib bisnis di sini. Justru di Pasar Baru inilah turut banyak diramaikan para pedagang etnis India.

Pasar Baru itu sendiri disebutkan merupakan pusat perbelanjaan tertua di Batavia (kini Jakarta). Berdiri sejak 1820, pasar ini tidak hanya jadi pusat orang India berbinis, tapi juga bermukim.
Beberapa bangunan toko di dalamnya masih sangat lawas antara perpaduan gaya Tionghoa dan Eropa. Bahkan beberapa di antaranya masih ada yang orisinil dan terpelihara hingga kini, kendati bangunannya mulai sedikit rusak di sana-sini.
Seperti “Toko Kompak” misalnya. Salah satu toko di dalam kompleks Pasar Baru ini nampak atapnya sudah berkarat dan usang. Akan tetapi sejak zaman kolonialisme Belanda, toko ini konsisten menjual alat-alat masak hingga sekarang.
 
Kalau Anda berkesempatan ke Pasar Baru, setidaknya jangan hanya belanja doang. Karena sayang jika tidak sekaligus wisata sejarah dan wisata religi.
Destinasi wisata sejarah selain “Toko Kompak”, adalah gedung bekas pembuat jamu ‘Nyonya Meneer’ yang berdiri sejak tahun 1900-an. Letaknya tak jauh dari Vihara Sin Tek Bio.
Nah, bisa sekalian juga kan wisata religi ke vihara yang sudah eksis sejak 1698. Ditambah, ada Gereja Ayam, hingga Masjid Lautze yang didirikan di atas dua ruko pada 1994.
Oh iya, tak ketinggalan ternyata di Pasar Baru ada pula Kuil Sikh lho. Kuil yang khusus jadi tempat sembahyang orang-orang India Sikh yang sudah ada sejak 1950.
 
Seperti yang disebutkan di atas sebelumnya, Pasar Baru juga jadi tempat orang-orang India bermukim. Selain ada kuil, ada pula Sekolah Ghandhi yang juga sudah eksis pada 1950, di mana dulu khusus diperuntukkan anak-anak etnis India.

Sejarah Singkat Istana Bogor Sebagai Istana Kepresidenan Indonesia


Sebelum bangsa barat masuk, wilayah ini merupakan sebuah kekuasaan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang memindahkan pusat kekuasaannya di Batutulis dari Kawali daerah Ciamis (Raja Pakuan disebut Prabu Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi). 

Tetapi kejayaan raja ini tidak berlangsung lama, Karena masuk nya pengaruh islam serta diusul dengan berdirinya Kerajaan Banten yang terus ingin memperluas wilayah di daerah pedalaman - menimbulkan pertikaian dengan Kerajaan Pakuan, bahkan hingga mengalahkannya. Tahun 1522 Surawisesa, salah satu pengganti Pakuan bekerja sama dg Portugis mengembalikan kekuasaaan Pakuan. Tetapi upaya ini gagal ketika banten semakin berkuasa, Sehingga riwayat Kerajaan Pakuan tersebut berakhir.

Istana Bogor ini merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan fauna yang ada di sini yaitu Rusa dan dikelilingi flora bernilai ilmiah (Kebun Raya Bogor).

Sejarah dan Perkembangan Istana Bogor :


Tahun 1702 mengungkapkan, bahwa letusan Gunung Salak yang terjadi pada tahun 1699, mengakibatkan hutan lebat lokasi Pakuan Pajajaran berubah menjadi lapangan luas tanpa pepohonan sama sekali
Pada tahun 1703 ekspedisi Belanda yang dipimpin Abraham Van Riebeck menemukan ladang di lereng sungai Cipakancilan yang menandai adanya kehidupan baru di lahan bekas Pakuan Pajajaran. Ini merupakan tahapan sejarah berdirinya Kota Bogor dimana Istana Bogor berada.

Tahun 1744, wilayah ini menjadi semakin penting setelah Gubernur Jenderal Baron von Imhoff mengambil alih menjadi hak milik pribadi karena terkesan oleh keindahannya. Wilayah itu beli seharga 33.500 ringgit dan dinamakan Particuliere Landrijn Nangeueer en Campoeng Baroe.


Munculnya Istana Bogor diawali dengan keinginan pasukan VOC membuka wilayah pedalaman tahun 1687 di bawah kepemimpinan Letnan Tanuwijaya, Hal ini dilakukan setelah mendapat persetujan dari Cirebon (1681) dan Banten (1684), Bahkan Sersan Wisnala salah satu pasukan VOC. Makin gencar dan berhasil mendirikan kampung Parung Angsana yang sekarang disebut Kampung Tanah Baru. Sepak terjang pasukan VOC makin gencar hingga berhasil mendirikan berbagai kampung seperti Bantar Jati, Babakan, Sempur, Bantar Kemang, dan Panaragan. Mereka kemudian menyebar ke arah hulu, sehingga muncul Kampung Babakan Peundeuy dan Lebak Pasar diseberang Kali Ciliwung. 

Baron menyebut tempat peristirahatan itu Buitenzorg atau ‘Terlepas dari kesulitan’. Selepas Imhoff kepemilikan bangunan ini diteruskan Gubernur Jacob Mossad dengan surat keputusan Juni 1751. 
Di masa pemerintahan Mossel (1750-1761), Buitenzorg dibakar habis oleh Kerajaan Banten yang melancarkan serangan sekitar tahun 1750-1752 di bawah pimpinan Ratu Bagus dan Kyai Tapa.

Tanggal 6 Juli 1776, wilayah itu diserahkan kepada pemerintah Belanda. Jual beli terus berlanjut. Dari tangan Gubernur Jenderal van Overstiaten (1796-1801) berpindah ke Siberg (1801-1804). Sebelum VOC dibubarkan tahun 1879, wilayah ini diserah¬kan kepada Wiese (1804-1808), yang lalu menjual kepada Gubernur Jen¬deral Wellem Daendels, mewakili pemerintah Belanda yang menggantikan VOC, seharga 39.000 ringgit.
Di masa pemerintahan Daendels (1808-1811), bangunan Buitenzorg disempurnakan.la menambah bangunan samping kiri dan kanan Gedung Utama dengan bangunan bertingkat, masa ini tidak lama. Pemerintah Belanda jatuh ke tangan Inggris. Daendels pun digantikan Letjen Thomas Stamford Raffles dari Inggris yang berkuasa tahun 1811-1816. 

Di tangan Raffleslah, Buitenzorg mengalami perombakan total. Raffles memperbaiki gedung induk yang semula gudang penyimpanan bahan bangunan. la juga memperindah taman dengan mengambil pola taman Inggris. Untuk melengkapinya, di halaman dilepas 3 kawanan rusa bertanduk panjang dan bebercak putih yang didatangkan dari daratan Asia. Raffles pun memperindah Istana Bogor dengan membangun Kebun Raya Bogor tahun 1817. Kebun ini seluas 85 hektar dan memiliki 16.000 spesies tumbuh-tumbuhan. Salah satu yang kini terkenal adalah bunga Rafiesia yang langsung mekar dari tanah. Hanya, tak lama kemudian, situasi berubah. 

Kekuasaan dikembalikan lagi kepada pemerintah Belanda yang lalu mengangkat Gubernur Jenderal van der Capellen. Capellen memperindah gedung induk dengan sebuah menara, lengkap dengan kubah. Sayang. keindahan ini runtuh, karena gempa dahsyat akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1834. Untuk itu, selu-ruh bangunan yang tersisa diratakan.

Penerus Capellen. Gubernur Jenderal Twist, menaruh perhatian khusus pada pembangunan kembali peristirahatan Bogor. Namun rencana itu baru terlaksana dan terselesaiakan di era pemerintahan Gubernur Jenderal Pahud de Montanger tahun 1850, dengan gaya dan corak abad ke-19 di Eropa. Waktu terus bergulir. Situasi pemerintahan pun berubah, khususnya di Hindia Belanda. Tahun 1941, negeri itu jatuh ke tangan Jepang akibat serangan kilat. 

Gubernur Tjarda Starkemborgh Stachouwer menyerah tanpa syarat dan meninggalkan Buitenzorg. Sayang seribu sayang, pemerintah Jepang sama sekali tidak peduli pada keindahan Buitenzorg. Yang mereka cari hanyalah kekayaan. Karena itu di era pemerintahan Jepang hingga sekitar tahun 1945, Buitenzorg dibiarkan terbengkalai, entah itu dari emas, permata, hingga tirai penutup jendela menjadi rampasan balatentara Dai Nippon. Yang tertinggal hanyalah "kaca seribu" yang berumur sekitar 130 tahun dan kaca besar lain, serta dua patung dada dari marmer. Dalam keadaan porak-poranda itulah akhirnya pemerintah Belanda menyerahkan Buitenzorg kepada pemerintah RI tahun 1949, setelah berhasil merebut kembali Hindia Belanda dari tangan Jepang. 

Istana Bogor Sebagai Istana Kepresidenan Indonesia 


Secara resmi Buitenzorg disebut Istana Bogor, namun baru resmi digunakan sebagai Istana Kepresidenan tahun 1950, setelah Belanda mengakui kedaulatan RI. Presiden Soekarno yang akan menempati istana itu harus membawa sendiri tempat tidur besi model kuno dari Jakarta. Juga, melengkapi peralatan istana dengan membeli meubel dari Javahout dan tirai penutup pintu dari van der Pal. 

http://www.tekno-pedia.net/2016/02/sejarah-singkat-istana-bogor-sebagai.html

Lawang Sewu


Lawang Sewu (bahasa Indonesia: seribu pintu) adalah gedung gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.



Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero

Sejarah
Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Awalnya kegiatan administrasi perkantoran dilakukan di Stasiun Semarang Gudang (Samarang NIS), namun dengan berkembangnya jalur jaringan kereta yang sangat pesat, mengakibatkan bertambahnya personil teknis dan tenaga administrasi yang tidak sedikit seiring berkembangnya administrasi perkantoran.

Pada akibatnya kantor NIS di stasiun Samarang NIS tidak lagi memadai. Berbagai solusi dilakukan NIS antara lain menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai solusi sementara yang justru menambah tidak efisien. Apalagi letak stasiun Samarang NIS berada di dekat rawa sehingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Maka, diusulkanlah alternatif lain: membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal).

NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903.

sumber: wikipedia.org

Pembangunan gedung Eks Palaguna berdampak Peningkatan PAD Kota Bandung

savexpalaguna nusantara bukan RTH jadi the bandung icon


Meski berdekatan dengan ibu kota negara, kondisi geografis Jawa Barat sangat berbeda dengan DKI Jakarta. Hal ini tentunya membuat pembangunan di Jawa Barat sulit untuk menyamai Jakarta, sedangkan pembangunan itu adalah salah satu sumber pendapatan daerah. Karena itu, daerah Jawa Barat lebih terfokus pada pembangunan tempat wisata dan hiburan dibanding industri layaknya di ibu kota.

Jawa Barat sendiri masih jadi salah satu destinasi liburan favorit warga Jakarta dan sekitarnya, savexpalaguna karena lokasinya yang memang tidak begitu jauh. Berkunjung ke tempat wisata daerah Jawa Barat dapat dilakukan pada akhir pekan tanpa harus mengambil jatah libur lebih. Selain itu, banyak pilihan wisata yang menjamur di Jawa Barat; termasuk wisata-wisata unik dan modern yang membuat orang penasaran untuk datang langsung.

baca juga >> savexpalaguna, Mall Modern dan penggunaan Escalator pertama di Bandung


Jawa Barat khususnya Bandung memiliki track record pengelolaan tata kota yang baik beberapa tahun belakangan ini. Berbagai tempat wisata dan hiburan yang ditingkatkan kualitas pengelolaannya, seperti masjid raya Bandung, kawasan Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika. Dengan semakin membaiknya pengelolaan, membuat semakin banyak pula pengunjung yang datang. 

baca juga >> Sejarah dan kenangan Gedung eks Palaguna Nusantara savexpalaguna


Hal itu tentunya akan berpengaruh pada pendapatan daerah Jawa Barat dari berbagai aspek. Yang paling berpengaruh langsung adalah pendapatan masyarakat sekitar yang memanfaatkan lokasi wisata dengan berjualan atau menjajakan jasanya. Pendapatan dari para pelaku usaha lainnya, seperti kuliner dan oleh-oleh, juga dapat meningkat karena orang cenderung berkunjung ke lebih dari satu tempat dan mencari hal yang khas daerah itu. savexpalaguna

baca juga >> Peruntukan Lahan Eks Palaguna, Diserahkan ke Pemiliknya


Rencana pembangunan “The Bandung Icon” pada kawasan eks Palaguna akan turut meningkatkan pendapatan daerah. Terlebih lagi tren jaman sekarang yang senang mencari lokasi wisata yang modern namun tetap unik dan bernilai seni budaya, sesuai dengan konsep dan lokasi “The Bandung Icon” yang terletak di sekitar area cagar budaya. Dengan begitu, daya tarik tempat ini akan semakin bertambah dan membuat “The Bandung Icon” menjadi destinasi baru para pemburu wisata.

tags:
gelar aksi saveXpalaguna, gedung eks palaguna, eks palaguna bukan RTH, ex palaguna jadi bandung icons, demo gedung eks palaguna, komunitas dan seniman savexpalaguna, eks palaguna beda sama baksil, sejarah palaguna dulu adalah mall, kawasan eks palaguna komersil, ex palaguna sesuai peraturan, eks palaguna bandung modern, ex palaguna, saveXpalaguna jadikan bandung icon, savexpalaguna bukan RTH, save eks palaguna, Save EX Palaguna